Rabu, 26 Januari 2011

Kisah Nyata dari Dunia Pendidikan

Dari mailis tetangga: Kisah menarik dari dunia pendidikan.

Rizki, My Genius Student
Erwin "Wiwin" Puspaningtyas Irjayanti (Pengajar Muda di Kab. Majene, Sulawesi
Barat)

The Old Man said, Everyday has its miracle. I am not the Old Woman, but I
believe it too: EVERYDAY HAS ITS MIRACLE"

Kisah ini hadir di layar komputermu setelah seorang guru di SD terpencil
berlari-lari riang selama 45 menit sembari membawa parang bersama 3 muridnya
yang menggenggam bambu runcing untuk menghalau babi--jika sewaktu-waktu
ketemu--menuju "Bukit Harapan", demikian bukit itu diberi nama baru-baru ini
karena di bukit itu telah ditemukan sinyal GPRS. Diketik dengan penuh kesabaran
di atas keyboard HP Nokia E63, inilah kisah yg ingin diceritakan oleh guru SD
terpencil itu:

Tentang Rizki.
Teman-temannya, murid kelas 3, bercerita tentang dia kepada saya: anak itu,
namanya Rizki. Rizki Ramlan. 9 tahun. Sejak 4 bulan belakangan, dia tak pernah
berangkat ke sekolah. Tanpa alasan. Namun desas desus menyebutkan, bahwa ia
malas bangun pagi. Dengan kehadirannya yang tak lebih dari 20 kali dalam 1
semester, teman2nya mengenal ia sebagai anak pandai. Rizki, ia tinggal di
Tamaluppu.

Tentang Tamaluppu.
Ialah sebuah tempat yg lebih terpencil dari Passau--tempat terpencil dimana
saya tinggal saat ini.
Ini adalah statistik tentang Tamaluppu (T) Vs. Passau (P).
*Jumlah rumah: 13 (T) Vs. 60 (P).
*Listrik: sama sekali tidak ada (T) Vs. genset desa dr jam 19.00-22.00 (P).
*Sinyal GSM: sama sekali tidak ada (T) Vs. Maksimal utk SMS di spot tertentu (P)
*Jarak dari jln.poros Majene-Mamuju: 6-7 km / 1,5-2 jam perjalanan (T) Vs. 3 km
/ 45 menit perjalanan (P).
*Dapat dicapai menggunakan: hanya dengan jalan kaki dari Passau (T) Vs. Motor,
jika tidak turun hujan (P)

Tentang Ide Mengajar di Tamaluppu
Pada hari dimana saya mengemukakan ide bahwa saya ingin seminggu 2x memberi
pelajaran tambahan bagi anak-anak di Tamaluppu, banyak orang menganjurkan untuk
tidak usah, karena itu jauh, susah, repot. Anak2 Tamaluppu juga lebih pemalu
dari anak2 super pemalu di Passau. Buat apa? Kenapa tidak menyuruh mereka saja
yang ke sini utk mendapatkan pelajaran tambahan?

Saya bergeming. Hanya tersenyum dan dengan halus menjawab keberatan orang2,
"saya akan tetap ke sana, meski sendirian."

Tentang Tamaluppu yang Saya Kenal.
Sudah tiga minggu ritual ini berjalan: Jam 3 sore, setiap Selasa dan Jumat,
pergi ke Tamaluppu mengajar anak-anak di sana. Kami belajar dimana saja: di
rumah Ali (murid kelas 6), di halaman langgar, di bawah pohon kelapa (yg sedang
tidak berbuah). Saya mengenang Tamaluppu dalam beberapa potongan memori:
--ialah suatu tempat dimana 8 dari 63 murid saya tinggal. Yang jika hari hujam,
dipastikan anak2 itu tidak akan berangkat sekolah.

--Sebab jika hari hujan, jalan setapak yg sedianya mereka lewati berubah menjadi
sungai dan air terjun. --Anak2 itu berangkat ke sekolah dengan membawa bambu runcing, sebab di perjalanan dari Tamaluppu menuju Passau, seringkali mereka musti berhadapan
dengan babi hutan.

Antara Saya dan Rizki Ramlan
Saya tidak pernah mengenal anak itu. Menyentuhnya. Berbicara dengannya. Saya
tidak mampu. Ia begitu tak tersentuh. Begitu jauh. Setiap kali saya berusaha
mendekatinya sehabis saya mengajar anak2 Tamaluppu yang lain, ia selalu lari.
Menjauh. Mengintai saya dari tempat yang menurutnya paling aman sedunia:
persembunyiannya. Saya mengalah. Saya memilih tidak memaksa.
Hingga pada suatu sore yg berhujan deras, yg tak henti-henti sampai petang dan
malam tiba, saya memutuskan untuk menerima kesopanan orangtua Ali yg menawarkan
saya bermalam di rumah mereka.

Singkatnya malam itu, Rizki yg malu-malu itu, pada suatu kesempatan saat saya
habis salat isya, dari balik pintu dia melemparkan: selembar kertas yg bulat
karena diremas, dua lembar, tiga lembar, sampai 6 lembar. Lalu, dia lari.
Dia berlari dan menjauh. Tak tersentuh untuk kesekian kalinya.
Saya membuka kertas2 itu. Isinya, membuat saya mematung:
Coretan soal2 matematika yg tiga minggu ini kuajarkan pada anak-anak Tamaluppu,
kelas 4, kelas 6.

Di kertas yg lain, coretan soal yg dia buat sendiri, dan dia jawab sendiri.
Dan 80% jawabannya adalah benar: materi kelas 4, materi kelas 6. Rizki, kelas
3, sudah 4 bulan tidak masuk sekolah.
Aku tertegun. Mematung.

Dalam nyala obor, aku menulis di sesobek kertas: "Pintar sekali kamu! Sekolah di
mana?". Kuremas kertas itu.
Lalu keluar rumah: mencari sosoknya di kegelapan dan menemukannya sedang
mengintaiku dari bawah tangga. Kulempar kertas itu di tempat yg terlihat namun
agak jauh darinya, lalu pergi seolah-olah yg barusn kulempar adalah sampah.
Tak lama, dari jendela yg sengaja kubuka, masuklah segumpal kertas:
"Tidak sekolah. Tidak ada yang diajarnya. Tidak ada gurunya."

Aku tersenyum. Benar dugaanku bahwa dia akan membalas suratku. Tanpa sempat
menutup jendela, aku tertidur. Tak tahu bahwa seorang anak meringkuk di bawah
jendela, menanti ada balasan atas segumpal kertas yg dilemparnya. Hanya karena
dia berpikir bahwa jendela itu masih terbuka. Ketika pagi, baru aku sadar:
jendela terbuka, aku melongok, menemukan tubuh kecil meringkuk di atas bangku
dari bambu. Tertidur. Tangannya menggenggam kertas, dan pulpen.

Tentang suatu hari bernama Selasa, 14 Desember 2010, sekira pukul 15.30 WITA
Hari hampir hujan. 30 menit perjalanan dari Passau sudah saya tempuh. 15 menit
lagi, saya tiba di Tamaluppu. Antara ya dan tidak, sembari menatap langit
berawan pekat, saya memutuskan melanjutkan perjalanan. Tak sampai 5 menit,
hujan turun. Langsung sangat deras. Saya berteduh di bawah pohon jambu mete,
bersama kakak angkat saya yang juga guru sukarela, Kak Yani. Semenit, dua
menit.

Di kejauhan, di bawah butiran air yg menyamarkan pandangan mata, samar-samar
kulihat sesosok bocah. Bertelanjang dada, bercelana yang warnanya seperti
coklat. Parang di tangan kirinya, daun pisang di tangan kanannya. Dia mendekat.
Semakin dekat dan dia menuju kami. Menuju saya. Mengulurkan daun pisang di
tangan kanannya, satu untuk saya, satu untuk Kak Yani.

Aku dan Kak Yani saling bertatapan.
Aku bertanya yg segera diterjemahkan oleh Kak Yani yang intinya, "ngapain kamu
di sini? Dari kebun?"
Dia tak menjawab.
Dadanya naik turun. Naik, turun. Naik, turun. Naik turun dengan cepat. Air
hujan, mungkin, telah mengaburkan--jika benar--air matanya.
Dia menangis.
Ya, dia menangis.
Lalu, dengan bahasa Mandar yg kacau, saya bertanya, "mangappai i'o sumangiq,
Rizki? Mengapa kamu menangis, Rizki?"
Aku mengulurkan tangan. Meraih tubuh basan kuyupnya. Dan untuk pertama
kalinya, ia diam. Tak berlari. Tak menjauh. Rizki, akhirnya, aku dapat
menyentuh tubuh kecilnya.

Lalu tiba-tiba, Tiba-tiba saja, dia menyambutku. Memeluk pinggangku.
Melingkarkan tangannya yang masih memegang parang di pinggangku.
"Puang, yakkuq meloq massikola."
Dalam hujan, dia menenggelamkan kepalanya di perutku, mengalahkan derasnya
suara hujan dengan suaranya, "Puang, saya mau sekolah."
Dia memelukku. Erat.
Aku mematung. Haru. Sakit. Sesak. Bahagia. Sesak oleh perasaan bahagia.
Teringat olehku tentang pagi itu, ketika bocah itu masih meringkuk tertidur di
bangku bambu bersama segenggam kertas dan pulpen, saat kuletakkan segenggam
kertas di dekat kepalanya, "Pergilah ke sekolah. Aku guru di sana. Akan kuajar
kau tentang rahasia-rahasia yang ingin kau tahu. Semua rahasia. Pergilah ke
sekolah."

Pagi ini, 15 Desember 2010
Kebahagiaan adalah ketika dari jendela rumahm saya melihat anak-anak Tamaluppu
tiba di sekolah. Ada Rizki di sana. Dengan seragam kusut robek-robeknya. Saat
aku masuk halaman sekolah, ia tengah memegang raket badminton.
Saat ia kutatap, ia melengos. Pura-pura tak melihat. Dia masih malu-malu.
Saat kudekati, ia kembali berlari.
Ia kembali menjauh.
Ia kembali tak tersentuh.
Tapi aku tahu, hari-hari esok, dia akan melemparkan bola-bola kertasnya
kepadaku. Lagi. Seperti tadi siang ketika tiba-tiba ia melemparku segenggam
kertas, "Kapan Tamaluppu akan mengalami musim salju seperti di Amerika?"
***
Salam hangat dari Bukit Harapan

Selasa, 11 Januari 2011

Kenapa Harus Mentoring (liqo-red)?

Islamedia - Tulisan ini ditujukan untuk seluruh mahasiswa,pemuda, yang
masih mempertanyakan kenapa harus mentoring ?? apa sih itu mentoring
dan yang lebih penting apa itu manfaatnya.. atau bisa juga tulisan ini
untuk para mentor yang masih mempertanringyakan kenapa saya menjadi
mentor ? apa sih urgensinya. dan bagaimana mentoring mampu menjadi
bagian dari membangun peradaban. !

kenapa harus mentoring ?

Karena mentoring sebenarnya adalah proses untuk “akselerasi
kedewasaan”. Kedewasaan ini, sangatlah luas, bisa jadi, kedewasaan
dalam memahami Islam,kedewasaan dalam berilmu sesuai pilihan
kompetensinya, kedewasaan dalam mensikapi masalah, kedewasaan dalam
memilih keputusan, bahkan kedewasaan dalam bergaul- mengenal karakter
manusia.

Kedewasaan, Kenapa ? Kenapa Bisa ? Dan Apakah Harus Dengan Mentoring ?

Ya. Mentoring adalah sebuah grup diskusi terfokus, yang didalamnya
terdapat interaksi- relasi antar insan, ada aspek manusiawi, serta
hubungan interpersonal. Bisa jadi seseorang menjadi dewasa, tanpa
mentoring, karena aspek pembentuk kedewasaan memang banyak, bisa jadi
dia anak sulung, sebatang kara, dididik orang tua, atau memang sudah
dilepas sedari kecil. Mentoring adalah proses “percepatan kedewasaan”,
karena dengan mentoring, maka kita akan memperbesar “kapasitas
berkomunitas” kita, memahami bahwa ternyata, karakter manusia itu
beragam, menangani konflik komunikasi, hingga mampu bekerjasama
walaupun terdapat perbedaan prinsip di satu sisi.

Lalu, Kenapa Harus Mentoring Yang Isinya Materi Melulu ?

Materi ? Ya, terkadang, mentor memang tidak mampu menerjemahkan
“materi” mati menjadi “hidup”. Mentor harus paham, bahwa “mempelajari”
dan “membaca” sebuah materi adalah satu masalah, sedangkan
“membumikan” dan “mengkomunikasikan” materi kepada adik mentor, adalah
masalah lain yang berbeda, jangan disamakan. Mentoring mengandung 3
aspek, yaitu kognitif ( materi keilmuan, knowledge. Bisa jadi rasmul
bayan yang kita dapat dulu saat pertama kali liqo), afektif ( sikap,
bersikap saat menyampaikan, raut muka, bahasa tubuh, mimik wajah, ) ,
dan psikomotorik ( bisa jadi saat rihlah, olahraga, intonasi).
Psikologi dan suasana mentoring akan sangat mempengaruhi adik mentor.

Mentoring, Apa Hubungannya Dengan Kesuksesan Saya ?
Apakah Mentoring Harus Bermateri Agama Islam ?

Tahukah kamu, bahwa orang- orang yang mampu mengubah zaman, pada masa
mudanya, adalah orang- orang yang membentuk kelompok diskusi tersegmen
? Tahukah kamu, bahwa mentoring dapat mempercepat pemahaman kita akan
sebuah disiplin ilmu ? Dan,bukan hanya Islam.Tidak percaya ? Ini
beberapa contohnya :
HOS Cokroaminoto punya 3 binaan, yaitu Sukarno ( Presiden1 RI), Semaun
( Pemimpin PKI Madiun), dan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo (
Pemimpin DI TII/ NII). Nah, semua jadi “tokoh” kan ? Walaupun akhirnya
jadi berseberangan, itu, mungkin karena mereka pada
ngebandel,mentoringnya gak selesai kali ya ?…

Jesse Jackson, senator negro pertama AS, yang Yahudi. Salah satu
binaannya adalah Lewis “ Scooter” Libby ( Staf DEPLU AS), dan salah
satu binaan dari mentoringnya Yahudi dari Libby ini, sekarang menjabat
sebagai Presiden Bank Dunia, Paul Wolfowitz ( Pasti tahu dia kan ?)

Badiuzzaman Said Nursi, pemimpin Harokah Islamiyah dari Turki,
penentang sekulerisme Kemal Pasha, dengan jamaahnya, Jamaah Nur, dan
risalahnya, Risalah Nuriyah, punya kader yang masih dalam mentoringnya
langsung, yaitu Dr. Necmetting Erbakan, dengan Partai Refah-nya,
mantan PM Turki yang akhirnya terjungkal oleh militer, digantikan oleh
Tanshu Ciller, dan hingga akhir hayatnya, dilarang terjun ke politik.
Namun, Erbakan ini punya 11 binaan yang dipersiapkan untuk terjun ke
politik praktis, dan 2 diantaranya adalah Abdullah Gul ( Presiden
Turki sekarang) dan Recep Thayyip Erdogan ( PM Turki sekarang), yang
mendapatkan amanah kepemimpinan dengan partai baru, Partai Keadilan
dan Persatuan.

Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, Abdul Latief, dan Fadel Muhammad,
adalah kader Golkar, yang sengaja dibentuk semenjak masih di bangku
kuliah ITB untuk mengendalikan sektor riil Indonesia, dengan suatu
saat nanti mengendalikan asosiasi dagangnya, yaitu KADIN. Mereka
terkenal dengan sebutan “Grup Gelapnyawang”, murobinya, pasti semua
kenal, Ginanjar Kartasasmita, Ketua DPD RI sekarang.

Tahu teman satu mentoring-nya Einstein ? Ya, Schrodinger! Dan tahu
nama komunitas diskusinya ? Ya, The Royal Society, yang sudah ada
semenjak Sir Isaac Newton hingga Stephen Hawking sekarang.

Jadi Kenapa Mentoring ? Saya Butuh Jawaban Logis- Rasional- Kuantitatif !

Baik, itu pertanyaan favorit saya, saya akan berikan jawaban :
Karena dengan mentoring, maka kamu akan mengalami Akselerasi/
Percepatan Kedewasaan.

Jawaban Yang Tidak Logis, Apa Maksudnya ? Kedewasaan Apa Konkretnya ?
Konkretnya ? Baik, saya kasih contoh tersegmen :

Kedewasaan Ilmu
Jika ingin mendapatkan akselerasi kedewasaan dalam memahami dan
menerapkan ilmu kamu di kampus, kamu harus ngementor dengan dosennya,
di luar jam kuliah. Bikin kelompok kecil dengan 1 dosen sebagai mentor
di rumahnya,jangan nunggu TA, kelamaan, keburu lulus ! Kenapa ? Karena
ruangan kuliah terlalu sempit untuk mengetahui aspek teknis- taktis
dari keilmuan kita. Jika memang benar- benar mau memiliki kemampuan
berpikir strategis ala anak S1 dan bergerak taktis- teknis ala anak
D3, maka, ajak seorang dosen untuk mentoring, curi semua ilmunya dan
kamu akan mengalami akselerasi ilmu yang jauh berlipat, kamu bisa
punya kemampuan setara doctor atau peneliti sebelum berusia 25 tahun!
Luar biasa bukan mentoring itu ?

Kedewasaan Bisnis

Maksudnya ? Ya, biasanya, orang punya ide luar biasa untuk terjun ke
sektor riil, namun bingung mulai dari mana, tidak ada modal, tidak ada
jaringan, dll. Nah, dengan mentoring bisnis ini, kamu bisa mendapatkan
ilmu luar biasa, bahwa ternyata, bisnis besar bisa dimulai dengan
tanpa modal! Bahwa jaringan itu bukan hal yang sulit! Dan, kamu bisa
mendirikan perusahaan berbasis kompetensi kuliah kamu, seperti halnya
Steve Jobs, atau Michael Dell, sebelum berusia 25 tahun ! Nah, luar
biasa bukan efek dari mentoring itu ?

Kedewasaan Psikologis

Maksudnya, apa lagi ? Hm, menjadi jenius bukan berarti terus jadi
asosial loh. Jarang bergaul dan susah berinteraksi, seperti Steve Nash
di Film A Beautifil Mind, sampai kena Skizofrenia segala ! Sudahlah,
cobalah untuk bisa paham bahwa karakter manusia itu beragam, ada yang
sensitive, agresif, ekspansif, bahkan arogan segala! Tahu kan,
biasanya orang asosial punya kecenderungan bunuh diri tinggi, bahkan
suka gagal dalam membangun karir dan relasi. So, mau cepet dewasa
dalam menyikapi permasalahan hidup ? Yuk, mentoring.

Kedewasaan BerIslam

Ah, kamu pasti tidak mau disebut fanatik kan ? Fanatisme berlebihan
terjadi karena dogmatis yang tanpa ada diskusi dan interpretasi. Islam
tidak seperti itu, kita diberikan kesempatan untuk bertanya seluas dan
sedalam mungkin, kita bahkan ditantang untuk membuktikan kebenaran
Islam dalam Al Quran, dan percayakah kamu, Malaikat saja bertanya !
Mempertanyakan kepemimpinan manusia di bumi ? Dan, mereka tidak
disebut Allah dengan kurang ajar loh. So, ,mau menjadikan Islam
sebagai sebuah gaya hidup ? Setelah kamu jadi peneliti, pengusaha,
hingga dosen, kamu akan kehilangan ruh dan karakter kuat manakala
tidak punya prinsip yang kuat, dan saya yakin, Islam adalah prinsip
hidup yang paling nyaman dan menyenangkan buat manusia, mau mentoring
Bos ? Yuuuk……

Intinya, dengan mentoring, kamu bakalan lebih cepat mengalami
kedewasaan, mengenali potensi kemanusiaan kamu, hingga menata hidup
kamu lebih baik, bukan Cuma buat kamu sendiri, tapi juga buat
lingkungan sekitar kamu…Asyik kan?
Nah, contoh- contoh argumen diatas, apakah bisa dipakai ? Sekedar
saran ringan saja

Ridwansyah Yusuf Achmad (Kepala Gamais ITB (08/09),Presiden Keluarga
Mahasiswa ITB(09/10)


Kenapa Harus Mentoring (liqo-red)?
1/09/2011 08:51:00 AM | Filed under thulabiy | Posted by islamedia

http://www.masternewmedia.org/images/tracking_external_links_help_improve_website_traffic_forum_discussion_group_id3123711.jpg

Sabtu, 08 Januari 2011

Lanjutan novel 5 Menara

Ranah 3 Warna
Harga:Rp 65.000,- *
Ukuran:13.5 x 20 cm
Tebal:0 halaman
Terbit:Januari 2011
Soft Cover

*)harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia bahkan sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan Inggris. Impiannya? Tinggi betul. Ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai ke Amerika.

Dengan semangat menggelegak dia pulang ke Maninjau dan tak sabar ingin segera kuliah. Namun kawan karibnya, Randai, meragukan dia mampu lulus UMPTN. Lalu dia sadar, ada satu hal penting yang dia tidak punya. Ijazah SMA. Bagaimana mungkin mengejar semua cita-cita tinggi tadi tanpa ijazah?

Terinspirasi semangat tim dinamit Denmark, dia mendobrak rintangan berat. Baru saja dia bisa tersenyum, badai masalah menggempurnya silih berganti tanpa ampun. Alif letih dan mulai bertanya-tanya: "Sampai kapan aku harus teguh bersabar menghadapi semua cobaan hidup ini?" Hampir saja dia menyerah.

Rupanya "mantra" man jadda wajada saja tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup. Alif teringat "mantra" kedua yang diajarkan di Pondok Madani: man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Berbekal kedua mantra itu dia songsong badai hidup satu persatu. Bisakah dia memenangkan semua impiannya?

Ke mana nasib membawa Alif? Apa saja 3 ranah berbeda warna itu? Siapakah Raisa? Bagaimana persaingannya dengan Randai? Apa kabar Sahibul Menara? Kenapa sampai muncul Obelix, orang Indian dan Michael Jordan dan Kesatria Berpantun? Apa hadiah Tuhan buat sebuah kesabaran yang kukuh?

Ranah 3 Warna adalah hikayat bagaimana impian tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup terus digelung nestapa.

Selasa, 21 Desember 2010

cuarahan hati..

aku melihatnya, aku bicara dengannya, aku tersenyum karna leluconnya, aku menangis dalam tatapannya, aku bahagia bersamanya, namun rasa itu tak ada, rasa menggebu-gebu dalam dada. marahkah kau? aku tak memiliki perasaan itu untukmu? ini bukan inginku, namun ini yang terbaik untukku. aku memang belum menginginkan rasa itu. biarlah rasa itu tetap menjadi rahasia untukku. ku ingin rasa itu muncul pada waktunya.